Judul : Dampak Sosial Ekonomi Program Penanganan Kemiskinan melalui KUBE
Peneliti : Dra. Haryati Roebyantho
Lokasi Penelitian : Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nanggro Aceh Darussalam, Sulawesi Selatan
Tahun Penelitian : 2011
Bidang : Program Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks karena menyangkut berbagai macam aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Kementerian Sosial Republik Indonesia melaksanakan Program Penanganan Fakir Miskin P2FM-KUBE. Sasaran P2FM melalui KUBE adalah keluarga miskin kluster pertama (kriteria Kementerian Sosial Republik Indonesia). Tujuan P2FM- KUBE adalah mempercepat penurunan angka kemiskinan di Indonesia. Namun sejak tahun 1983 hingga 2003 belum pernah ada kajian atau penelitian yang menganalisis keberhasilan KUBE dengan fokus pada manfaat KUBE bagi anggota dan masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang “Dampak Sosial Ekonomi Penanganan Kemiskinan Melalui KUBE” di empat kabupaten/kota yaitu: Kota Banjarmasin, Kota Banda Aceh, Kota Tomohon dan Kabupaten Nganjuk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa KUBE yang dijadikan responden adalah KUBE yang dibentuk tahun 2004 sampai 2008. Setiap lokasi menggunakan Pedoman berbeda-beda, dimana setiap Pedoman memiliki karakteristik dan visi berbeda. Akibatnya dalam mengimplementasikan banyak mengalami kendala. Keanekaragaman acuan berkaitan dengan kebijakan pembangunan Kesejahteraan Sosial pada masing-masing Kota/Kabupaten, sistim nilai masyarakat dan kearifan lokal.KUBE merupakan program alternatif Kementerian Sosial Republik Indonesia yang mampu mempercepat penghapusan kemiskinan. Misal: kasus Kondisi KUBE Kota Banjarmasin, pada tahun 2009 terdapat 54,67% KUBE maju dan berkembang, sedang 45,33% KUBE gagal. Kota Tomohon 52,73% KUBE tumbuh dan berkembang dan 47,27% KUBE gagal atau KUBE tidak memiliki kegiatan usaha lagi.

Kriteria sasaran belum mengacu pada kriteria BPS dan KPKD, akibatnya kriteria miskin setiap daerah berbeda. Gambaran riil pencapaian target KUBE dalam mempercepat penurunan angka kemiskinan secara kuantitas belum dapat diperoleh, disebabkan sampai kini belum pernah tersusun pemetaan jumlah dan status KUBE di 33 provinsi. Evaluasi Program P2FM-KUBE meliputi empat item yaitu: Input, Pembentukan KUBE masih bersifat bottom up, belum berpedoman pada konsep pemberdayaan kelompok artinya pembentukan KUBE belum sesuai dengan: kebutuhan masyarakat, keterampilan masyarakat, potensi kearifan lokal dan melibatkan partisipasi masyarakat. Legalitas KUBE masih terbatas pada hasil musyawarah kelompok, SK lurah, SK Bupati dan belum melibatkan kerjasama dengan instansi terkait, seperti dinas perdagangan, perindustrian dan koperasi. Legalitas KUBE dengan instansi terakit diperlukan untuk pengembangan usaha, dan mempermudah jaringan kerja. Secara Kelembagaan, hampir seluruh KUBE belum memiliki administrasi sesuai Pedoman P2FM-KUBE. Keterbatasan pendidikan formal dan informal khusus mengenai manajemen usaha menyebabkan kendala dalam mengembangkan usaha dan memasarkan hasil usaha, oleh karena itu untuk mengembangkan KUBE perlu pendamping Proses Pelaksanaan KUBE belum seluruh tahapan dilaksanakan sesuai panduan (belum ada panduan yang standar dan berkelanjutan).Konsep Pemberdayaan (khususnya membangun daya, membangun motivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki dalam upaya untuk mengembangkan) belum dijadikan materi dalam pelatihan dan bimbingan pada sasaran binaan maupun pada pendamping dan pelaksana program.Output atau Hasil KUBE sudah mampu meningkatkan pendapatan anggota. Mampu menjalin hubungan kerjasama dalam kelompok serta meningkatnya kemampuan dan pengetahuan dalam memecahkan masalah kesejahteraan sosial. Out come atau dampak sosial menunjukkan bahwa keberadaan KUBE mampu meningkatkan rasa kebersamaan dalam berusaha,mampu meningkatkan keperdulian dalam penanganan permasalahan sosial di masyarakat, mampu mengelola dana IKS untuk kesejahteraan masyarakat. Dampak ekonomi dapat Meningkatkan kesejahteraan anggota (mampu membiayai sekolah) dapat memberikan pinjaman modal usaha bagi masyarakat non anggota KUBE, memberikan peluang kerja bagi anggota non KUBE untuk bekerja di usaha KUBE (katering). Upaya mengoptimalkan pencapaian tujuan P2FM-KUBE, direkomendasikan beberapa alternatif kebijakan melibatkan masyarakat dalam pemetaan masyarakat miskin pada tahap persiapan pembentukan KUBE, peningkatan profesionalisme pendamping,dan mempertegas pembagian tugas dan wewenang antara pusat dan daerah, serta menyusun perencanaan untuk pendidikan dan pelatihan bagi pendamping dan pelaksana P2FM-KUBE di tingkat Kabupaten/Kota, serta mengkoordinasikan sharing dana dalam sosialisasi program dan pemberian insentif bagi pendamping.

Download (5649 Kali)




#Lokasi Penelitian
Jawa Timur,Kalimantan Selatan,Nanggro Aceh Darussalam,Sulawesi Selatan