Judul : EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN TAHUN 2020
Peneliti : Ayu Diah Amalia, S Sos,M.Kesos, Delfirman, S.Sos, Dr. Hari Harjanto Setiawan, AKS, M.Si, Drs, Bambang Pudjianto, M.Si, Drs. Achmadi Jayaputra M.SI, Drs. Setyo Sumarno, M.Si, Drs. Suradi, M.Si, Ir. Ruaida Murni, Mu,Man Nuryana, M.Sc, Ph.D, Muhammad BELANAWANE S, Muslim Sabarisman, AKS, Sugiyanto, S.Pd, M.Si
Lokasi Penelitian : Bali, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat
Tahun Penelitian : 2020
Bidang : Program Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

Executive Summary Ketepatan Sasaran Dan Nilai Kemanfaatan Bantuan Sosial Sembako di Jabodetabek

Wabah Virus Corona (Covid-19) menjadi perhatian dunia karena sebagian besar negara terguncang akibat dari virus ini. Pada 29 Mei 2020, terdapat 216 negara yang terinfesi Covid-19 sedangkan data terkonfirmasi sebanyak 5.657.529 dan yang meninggal sebanyak 356.254. Di Indonesia ada 25.216 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, sejumlah 1.520 kematian terkait dengan penyakit ini dan yang sembuh sebesar 6.492 (Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, 2020).

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus secara resmi mengumumkan virus Corona (COVID-19) sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020 (Friana, 2020). Mempertimbangkan bahwa bencana non-alam yang disebabkan oleh penyebaran Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) telah berdampak meningkatnya jumlah korban dan kerugian harta benda, meluasnya cakupan wilayah yang terkena bencana, serta menimbulkan implikasi pada aspek sosial ekonomi yang luas di Indonesia. Wabah covid-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional oleh Presiden Republik Indonesia (Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2020).

Di seluruh dunia saat ini, terdapat terdapat lebih dari 1 miliar penduduk terdampak Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang secara khusus telah ataupun akan menjadi penerima manfaat melalui pengenalan, perluasan, dan adaptasi program-program perlindungan sosial. Penerima  manfaat tersebut mencakup individu dan rumah tangga.  Perkiraan ini sebagian besar didorong oleh India (440 juta orang), tetapi tingkat yang cukup besar dapat diamati di beberapa negara, terutama di Asia Tenggara khususnya negara Malaysia, Filipina, dan Indonesia (Gentilini, Almenfi, Dale, Demarc, & Santos, 2020).

Di Indonesia mengakumulasi sekitar 99 juta penduduk yang terdata di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial dan estimasi 30% kelas menengah yang terdampak, akan didapat angka 140.85 juta penduduk Indonesia yang sedikitbanyaknya terdampak secara ekonomi oleh Pandemi COVID-19 (Kementerian

Sosial RI, 2020). Secara umum, perkiraan ini bahkan masih terbilang konservatif mengingat jenis mata pencaharian informal yang dominan di Indonesia membuat sulit menghitung dampak ekonominya. Bahkan memperhitungkan dampak dari sektor ekonomi formal pun menjadi sulit berhubung laporan pemutusan hubungan kerja tidak seragam pada setiap sektor dan terus melonjak intensitasnya dengan semakin diperpanjangnya mekanisme social distancing.

Perkiraan baru tentang dampak COVID-19 terhadap kemiskinan global dan nasional dalam jangka pendek karena guncangan konsumsi langsung menggaris-bawahi urgensi jaring pengaman sosial yang diberlakukan banyak pemerintahan, termasuk Indonesia, yang banyak mengerecut pada jenis bantuan tunai dan barang/nontunai. Dalam kaitan bantuan Sosial pangan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dimaksudkan untuk menahan arus mudik yang disebabkan karena masalah pekerjaan dan pendapatan.Penelitian ini akan mendalami nilai kemanfaatan bantuan dalam bentuk pangan dengan 10 macam yang terdiri dari mie instan,  sambal, sarden, susu, beras, teh celup, minyak goreng, kecap manis, kornet, sabun mandi. Ketepatan manfaat nilai bantuan pangan ini lebih jauh akan menjelaskan ketahanan keluarga dalam situasi krisis yang diakibatkan pandemic Covid-19. Sehingga diperlukan sebuah studi yang dapat memperhitungkan bagaimana implementasi ketepatan sasaran dan implementasi kemanfaatan nilai bantuan sosial pangan sebagai bentuk implementasi jaring pengaman sosial di masa Pandemi Covid-19.

Mempertimbangkan sudut pandang permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan: Pertama, menjelaskan implementasi ketepatan sasaran yaitu menerangkan celah atau gap dalam mekanisme penyaluran dan persoalan pendataan penerima yang sesuai kriteria penerima Bantuan Sosial Sembako. Kedua, menjelaskan implementasi kemanfaatan bantuan yaitu menerangkan celah atau gap dalam kesesuaian antara jenis dan nilai bantuan yang diterima dengan kebutuhan, dan sejauh mana memberi manfaat bagi masyarakat penerima Bantuan Sosial Sembako.

 

Executive Summary Pembelajaran Dari Covid-19 Tentang Masa Depan Kelompok Usaha Bersama (Kube)

Kemiskinan bersifat multidimensional, dan kondisi sosial budaya berpengaruh terhadap karakter orang miskin. Implikasinya, bahwa penanganan kemiskinan dilakukan secara multipendekatan dan multisektor, serta mempertimbangkan kondisi sosial budaya masyarakat (Suradi, 2006; 2016; Oceannaz, 2010; Kumala, Agustini & Rais, 2010; Sumarto, 2013).

Kementerian Sosial RI mengimplementasikan model KUBE dalam penanganan kemiskinan di Indonesia. Di dalam KUBE tersebut dilaksanakan kegiatan untuk penguatan relasi sosial dan peningkatan pendapatan keluarga miskin. Mencermati visi dan misi KUBE pada konteks kesejahteraan sosial, maka tidak cukup beradaan KUBE tersebut hanya difungsikan sebagai wadah kegiatan (Kemensos, 2017). Lebih dari itu, KUBE merupakan bentuk dari usaha sosial (social enterprise), dan kerena itu pengelola KUBE (social enterpreneur) diharapkan memiliki keterampilan di bidang usaha sosial (social enterpreneurship) (Barone, 2020; CBC, 2020; SEA, 2020; Hayes, 2020).

Pandemi Covid-19 berdampak luas terhadap aspek sosial ekonomi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan KUBE (Amri, 2020; Pakpahan, 2020; Hidayat, 2020; Nordiansyah, 2020; Rasti, 2020). Kebijakan pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan mengurangi aktivitas sosial ekonomi UMKM/ KUBE. Jika masa PSBB diberlakukan dalam jangka waktu lama,  maka KUBE akan mengurangi dan atau menghentikan  kegiatan sosial ekonominya (Fathoni, 2020; Wijayako, 2020; Islamtodya, 2020).

Berdasarkan fenome sosial di atas, maka penelitian ini akan menjawab pertanyaan “pelajaran apa yang dapat diperoleh dari pandemi Covid 19 terhadap maa depan KUBE”. Berkaitan dengan itu, penelitain ini bertujuan (1) mendeskripsikan dan menganalisis aktivitas KUBE sebelum dan sesudah pandemi Covid-19, (2) mendeskripsikan factor kendala dan pendukung, serta (3) mendeskripsikan dan menganalisis rencana KUBE ke depan.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data adalah (1) sumber data primer meliputi pengelola program KUBE di pusat dan Dinas Sosial kabupaten/kota, pengurus dan pendamping KUBE. Untuk mengumpulkan data dari sumber data primer dengan pengisian quesioner dan wawancara secara virtual; (2) sumber data sekunder berupa regulasi, pedoman, laporan dan literatur. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara studi dokumentasi dan studi literatur. Data yang telah dikumpulkan, dianalisis secara kualitatif dengan langkahlangkah: dikompilasi, editing, dikategorisasi, divalidasi dan dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil analisis data  menghasilan informasi tentang kondisi KUBE terdampak pandemi Covis-19 dan strategi koping yang dilakukan pengurus dan anggota untuk keberlanjautan KUBE.

Penelitian dilakukan di 3 (tiga) provinsi, yaitu: Bangka Belitung (Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung Timur), Bali (Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar) dan Nusa Tenggara Barat (Bima dan Kabupaten Lombok Timur.  Penentuan lokasi ini sebagai kasus, sehingga hasil penelitian  ini hanya berlaku di lokasi penelitian. Penelitian ini menjangkau 12 KUBE yang akan memberikan data aktivitas sosial ekonomi di masa pandemi Covid-19. Diharapkan hasil penelitian ini memberikan kontribusi bagi Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin, instansi sosial di daerah, dan para pemangku kepentingan dalam merevitalisasi KUBE sebagai modalitas dalam penanggulangan kemiskinan.



Download (372 Kali)




#Lokasi Penelitian
Bali,Bangka Belitung,DKI Jakarta,Jawa Barat,Nusa Tenggara Barat