Judul : KONDISI ANAK BERKONFLIK HUKUM (ABH) DI LP DEWASA DAN LPKS
Peneliti : Badrun Susantyo ,Ph .D, Dr. Hari Harjanto Setiawan, AKS, M.Si, Dra. Alit Kurniasari, MPM, Dra. Husmiati, M.Soc.Sc, Ph.D, Nyi. R. Irmayani, SH, M.Si
Lokasi Penelitian : Bengkulu, Kalimantan Barat , Sulawesi Tenggara
Tahun Penelitian : 2017
Bidang : Program Rehabilitasi Sosial

Misi Indonesia “Bebas” Anak Berkonflik Hukum (selanjutnya disebut ABH) dari Lapas Dewasa Tahun 2018 menjadi tantangan tersendiri bagi Kemensos. Sementara telah diketahui bersama bahwa Lembaga Pemasyarakatan(LP) bukanlahjalanyang baik dan jauh dari ideal untuk menyelesaikan permasalahan anak karena dalam Lembaga Pemasyarakatan rawan terjadi pelanggaran– pelanggaran terhadap hak anak, tindak kekerasan, tindakan diskriminatif bahkan anak dapat memperoleh pembelajaran tentang kejahatan dari napi orang dewasa. Dari perspektif ilmu pemidanaan, meyakini bahwa penjatuhan pidana terhadap anak nakal (delinkuen) cenderung merugikan perkembangan jiwa anak di masa mendatang. Kecenderungan merugikan ini akibat dari efek penjatuhan pidana terutama pidana penjara, yang berupa stigma (cap jahat). Terlepas anak bersalah atau berperilaku melanggar hukum, namun pada dasarnya mereka masih berusia anak-  anak, belum matang kepribadiannya sehingga belum memiliki kemampuan untuk memilah perbuatan yang salah dan benar, belum mengetahui perilaku yang dapat melanggar hukum. Bahkan anak-anak tidak memiliki pengetahuan, pengalaman serta dan merencanakan tindak kejahatan serta memahami akibat dari perbuatannya. Namun mereka melakukan perilaku melanggar norma sosial dan hukum yang mengharuskan mereka berurusan dengan aparat penegak hukum. Latar belakang mereka melakukan pelanggaran hukum, tidak dapat dilepaskan dari faktor keluarga, dan lingkungan masyarakat, dimana anak mengalami perlakuan yang salah, dari orang tua dan lingkungan yang turut mendukung kondisi tersebut. Seperti minimnya alternatif kegiatan kreatif untuk mengisi waktu luang saat mereka drop out atau tidak bersekolah lagi, kemudahan akses pada media sosial, terutama pornografi, sehingga kegiatan anak-anak remaja cenderung mengarah pada perilaku negatif, kurang terarah sampai akhirnya berurusan dengan hukum. Perilaku pelanggaran hukum, dapat berupa pencurian, pengeroyokan, bahkan sampai melakukan pencabulan berikut pembunuhan.



Download (36 Kali)




#Lokasi Penelitian
Bengkulu,Kalimantan Barat ,Sulawesi Tenggara