Judul : Evaluasi Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Pada Panti Sosial: Studi Kasus Pembinaan Lanjut (After Care Services) Pasca Rehabilitasi Sosial
Peneliti : Dra. Alit Kurniasari, MPM, Dra. Husmiati, M.Soc.Sc, Ph.D, Dra. Indah Huruswati, M.Si, Dra. Mulia Astuti, M.Si, Drs, Bambang Pudjianto, M.Si, Drs. M. Syawie, MS, Drs. Nurdin Widodo,M.Si, Drs. Setyo Sumarno, M.Si
Lokasi Penelitian : DKI Jakarta, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan
Tahun Penelitian : 2012
Bidang : Program Rehabilitasi Sosial
Evaluasi Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Pada Panti Sosial:Studi Kasus Pembinaan Lanjut (After Care Services) Pasca Rehabilitasi Sosial, bertujuan mendapat gambaran faktual pembinaan lanjut pada panti-panti sosial milik Kementerian Sosial, baik kebijakan, program, kegiatan, maupun pelaksanaannya. Pembinaan lanjut (after care services) merupakan proses pelayanan dan rehabilitasi social, karena itu proses pelayanan dan rehabilitasi social juga menjadi sasaran studi ini. Sasaran penelitian adalah panti-panti sosial milik Kementerian Sosial yang ditentukan secara purposive yakni unit Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak terpilih 3 panti (PSAA Alyatama Jambi, PSBR Naibonat Kupang, dan PSMP Antasena Magelang), unit Direktorat Rehabilitasi Sosial Orang Dengan Kecacatan (RSODK) terpilih 7 panti ( PSBD Budi Perkasa Palembang dan PSBD Wirajaya Makassar, PSBN Tumou Tou Manado dan PSBN Tan Miyat Bekasi, PSBRW Melati Jakarta dan PSBRW Efata Kupang, serta PSBL Phala Martha Sukabumi), unit Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial terpilih 2 jenis panti (PSKW Mulya Jaya Jakarta dan PSBK Pangudi Luhur Bekasi) dan unit Direktorat Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza terpilih 1 jenis panti (PSPP Galih Pakuan Bogor). Sebagai upaya memperoleh gambaran kondisi eks klien dari hasil pembinaan lanjut, juga dilakukan studi terhadap eks klien untuk setiap jenis panti social. Teknik Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, Focus Group Discussion (FGD), Observasi dan studi dokumentasi terhadap berbagai dokumen panti sosial yang relevan dengan tujuan penelitian. Data dan informasi yang diperoleh dari lapangan dianalis secara deskriptif kualitatif, dan disajikan dalam laporan setiap jenis panti social.
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa profesionalisasi pelayanan dan rehabilitasi social melalui system panti dapat memulihkan dan meningkatkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi social. Rehabilitasi sosial melalui system panti sosial ini memiliki kelebihan terutama terkait dengan kelengkapan sarana dan prasarana, SDM, dukungan anggaran dan program pelayanan lebih fokus, serta profesionalisasi penanganan. Meski dibalik itu terdapat beberapa kendala yang dihadapi sehingga pelayanan menjadi kurang optimal. Keluarga menjadi tempat asal klien sama sekali tidak mendapat intervensi, sehingga hasilnya menjadi kurang berimbang. Termasuk, tidak adanya keterlibatan institusi sosial yang memberi rekomendasi klien untuk memperoleh pelayanan dalam panti. Dengan demikian pelayanan dalam panti hanya berfokus pada klien, bukan pada sistem klien. Akibatnya keluarga dan masyarakat lingkungan eks klien belum mampu mendukung perubahan yang terjadi pada eks klien pasca rehabilitasi social. Panti social belum melaksanakan intervensi terhadap keluarga dan masyarakat dari setiap langkah pelayanan, mulai dari pendekatan awal, resosialisasi, dan pembinaan lanjut sesuai dengan prinsip-prinsip-prinsip pekerjaan sosial. Kondisi klien pasca pelayanan dan rehabilitasi sebagai output dan sumber timbulnya permasalahan berasal dari klien dan system yang mempengaruhinya, yaitu keluarga serta lingkungan socialnya. Dalam sistem klien, pelayanan dalam panti tidak hanya ditujukan pada klien sebagai fokus pelayanan, melainkan keterlibatan keluarga dan masyarakat sejak anak menerima pelayanan dalam panti sama pentingnya dengan perlakuan pada klien. Peran keluarga dan masyarakat menjadi penting, mengingat pemenuhan hak-hak dan akses kebutuhan seseorang tidak bisa dipenuhi dan harus dilakukan oleh panti sosial. Pemenuhan akan kasih sayang melalui pengasuhan orang tua/keluarga tidak bisa digantikan dengan pengasuhan dari orang tua asuh di dalam panti. Kenyataan hubungan diantara keduanya bersifat formalitas ikatan emosional yang terjadi sebatas hubungan klien dengan petugas, dan hubungan tersebut “putus” sejalan dengan selesainya klien menerima layanan. Belum lagi praktek nilai-nilai dan norma-norma dalam keluarga dan masyarakat juga belum menjamin klien memperolehnya dari panti social.
Disamping itu masih adanya keluarga yang lepas atau sengaja melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai orang tua, dengan menyerahkan klien ke panti sosial, tanpa diikuti dengan komunikasi bahkan berakhir dengan tidak menerima keberadaan klien sebagai bagian dari anggota keluarga. Masalah tersebut nampak pada klien dari panti Bina Laras, dengan kasus psikotik, dan kasus penggunaan napza, maupun klien panti asuhan anak. Dalam paradigma baru upaya penanganan klien tidak harus dipenuhi oleh pemerintah dan negara melalui panti social tetapi juga dilakukan oleh keluarga dan masyarakat. Dukungan keluarga sangat diperlukan atas keberhasilan rehabilitasi anak atau anggota keluarganya yang memperoleh pelayanan di panti sosial.Keluarga yang tidak dilibatkan dalam proses rehabilitasi akan lebih sulit memberikan dukungan terhadap upaya rehabilitasi. Karena itu, dalam merehabilitasi perlu mengikutsertakan orang tua/keluarga agar lebih memahami masalah anaknya dan dapat memberi perlakuan yang sebaiknya kepada anak agar tidak selalu tergantung pada orang lain.

Kata kunci: evaluasi, rehabilitasi social, panti social, pembinaan lanjutasdsadasdasdasdsad


Download (2935 Kali)




#Lokasi Penelitian
DKI Jakarta,Jambi,Jawa Barat,Jawa Tengah,Nusa Tenggara Timur,Sulawesi Selatan,Sulawesi Utara,Sumatera Selatan