Pada tanggal 03 April sampai dengan tanggal 06 April 2019 telah diadakan acara Workshop Arah Baru Kesejahteraan Sosial 2020-2023 yang diadakan di Hotel Four Points by Sheraton Makassar. Dalam kegiatan tersebut tengah dibahas seputar arah baru dalam kesejahteraan sosial. Tujuan penelitian tersebut yaitu menentukan arah baru pembangunan kesejahteraan sosial Indonesia melalui sebuah pendekatan yang responsif terhadap perubahan kondisi.

Acara dimulai pada malam hari tanggal 03 April yang dibuka oleh Bapak Mulia Jonie selaku Kepala Pusat Penelitain dan Pengembangan  Kementerian Sosial RI. Setelah acara pembukaan keesokan harinya dilanjutkan acara pembahasan yang di buka oleh Bapak Mu’man Nuryana selaku ketua tim penelitian. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Narasumber dari Akademisi, Praktisi, dan CSO yang turut mengisi kegiatan pada hari itu. Pembahasan seputar Arah Baru Pembangunan Kesejahteraan Sosial 2020-2024 berlangsung penuh di hari itu. Di sesi akhir acara pada hari itu, para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya serta melakukan diskusi kepada para narasumber. Acara pun di tutup dengan mendengarkan lantunan indah sang biduan yang diiringi dengan orgen tunggal.

Pada hari selanjutnya para peserta melakukan kegiatan di masing-masing kelas. Kelaspun dibagi menjadi empat kelas yang masing-masing kelas memiliki judul dan pembahasan yang berbeda. Kegiatan di dalam kelas tersebut dilaksanakan selama dua hari. Selepas dari kegiatan kelas tersebut keesokan harinya tibalah sesi penutupan acara Workshop Arah Baru Kesejahteraan Sosial 2020-2024 dan kesimpulan dari kegiatan ini disampaikan oleh ketua peneliti Bapak Mu’man Nuryana yang berbunyi:

Selama  bertahun-­?tahun  struktur  ekonomi  dan  keluarga  telah  berubah.  Dalam  sebuah ekonomi dan masyarakat yang dinamis, bentuk bantuan (asistensi) yang lebih pasif tidak lagi memadai. Pendekatan pembangunan sosial modern mengakui bahwa membantu individu berarti mengurus masalah seperti kurangnya keterampilan atau kehilangan kepercayaan diri. Ini mengakui bahwa yang paling baik dilakukan adalah bekerja dalam kemitraan dengan komunitas di mana orang tinggal.

Sistem kesejahetran sosial membutuhkan penyesuaian di era digital ini. Sistem ini dirancang lebih dari setengah abad yang lalu dan sudah tidak mampu mengimbangi perubahan kebutuhan masyarakat kita. Kita sekarang adalah masyarakat yang lebih heterogen yang terdiri dari banyak etnis, komunitas, keluarga, dan budaya yang berbeda, dan merupakan sebuah kekayaan. Cara kita hidup dan bekerja telah berubah juga, dengan lebih banyak perempuan daripada sebelumnya dalam paid work dan banyak orang bekerja paruh-­?waktu.

Sistem kesejahteraan sosial yang ada saat ini sudah kurang memberikan apa yang diinginkan atau dibutuhkan orang. Ini terlalu rumit dengan banyak lapisan dan jenis benefit. Orang tidak mendapatkan semua bantuan sosial (asistensi) yang mereka butuhkan karena mereka tidak tahu meminta apa kepada siapa atau administrasinya terlalu kompleks untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Sistemnya  sering  tidak  membantu  orang  untuk  mengambil  risiko  pada  entry-­?level job atau mengambil langkah pertama menuju karir baru. Ini tidak dapat memberikan orang kepastian bahwa mendapatkan pekerjaan akan membuat mereka lebih baik. Juga tidak cukup cepat menanggapi perubahan kebutuhan individu.

Pada saat ada kekurangan keterampilan di sektor ekonomi, kita masih memiliki banyak pengangguran  jangka-­?panjang.  Sistem  kita  saat  ini  tidak  melakukan  investasi  sosial yang   tepat  untuk   menjembatani   kesenjangan   sosial-­?ekonomi.   Secara   keseluruhan, sistem kita sudah ketinggalan zaman, kompleks dan tidak efektif dalam membantu orang mencapai kemandirian mereka. Sebagai contoh: (i) Terlepas dari kondisi ekonomi yang membaik, masih banyak penduduk usia kerja masih mengandalkan pada tunjangan/bantuan sosial (benefit); (ii) Masih banyak orang usia kerja terus-­?menerus menyandarkan pada bantuan sosial setelah melewati periode enam tahun dalam skema perlindungan sosial; dan (iii) Masih banyak orang yang lepas dari bantuan sosial untuk bekerja, tetapi kembali memerlukan bantuan sosial. Kita membutuhkan sistem jaminan sosial yang modern, sederhana, luwes, dan lebih efektif dalam mendukung orang untuk bekerja dan tetap bekerja.

Hasil Konvensi Arah Baru ini menawarkan pendekatan baru untuk pembangunan kesejahteraan sosial di Indonesia. Ini adalah pendekatan yang secara aktif berinvestasi pada manusia sehingga mereka dapat menanggapi tantangan dan peluang knoweldge economy kita yang sedang berkembang.

Tujuan Pemerintah melalui Kementerian Sosial adalah memberikan setiap orang dalam life cycle peluang kepada benefit dari ekonomi berketerampilan yang berkembang. Tidak  membuat orang-­?tergantung  pada  bantuan  sosial  atau  mendorong  mereka  ke dalam pekerjaan unproductive works, Kementerian Sosial berupaya untuk membangun keterampilan dan talenta semua warga negara; untuk menyediakan warga negara penduduk pathway menuju peluang di sektor ekonomi sehingga mereka dapat menemukan pekerjaan bermakna dengan real wages.

Selain menyediakan jaminan, anggaran sangat besar yang kami belanjakan setiap tahun pada benefit harus menjadi investasi pada potensi manusia dan modal sosial. Sistem kesejahteraan sosial harus lebih fokus pada tujuan itu bagi penduduk usia kerja, sambil memastikan bahwa penduduk dalam life cycle yang karena good reason tidak dapat bekerja, mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

Di masa lalu, perdebatan mengenai sistem kesejahteraan sosial menjadi argumen tidak produktif. Di satu sisi mereka yang melihat benefit payments hanya sebagai hambatan bagi pembangunan ekonomi; di sisi lain ada pendukung yang hanya menginginkan suntikan  uang  (bantuan  sosial)  terus-­?menerus,  meskipun  telah  terjadi  perubahan kebutuhan dan waktu. Kita harus segera melewati perdebatan tanpa hasil ini dan berfokus pada tujuan sistem kesejahteraan sosial dalam perekonomian kita. Perubahan teknologi, ekonomi dan sosial membuat pendekatan developmental dalam kesejahteraan sosial menjadi semakin penting.

Agar Indonesia bisa berhasil bersaing dalam ekonomi global, kita membutuhkan skilled workers. Rasa aman yang disediakan oleh pendekatan developmental dalam pembangunan kesejahteraan sosial yang efektif dan terfokus dengan baik diharapkan dapat mendukung warga negara untuk mengembangkan keterampilan kerja, dan menyediakan springbed atau batu loncatan untuk bergerak menuju peluang baru.

Ini berarti melihat sistem kesejahteraan sosial bukan sebagai sebuah benefit cheque bulanan (bantuan sosial), tetapi sebagai investasi sosial yang dipertimbangkan dengan hati-­?hati  untuk meningkatkan  kapasitas  orang  saat  ini,  agar  mereka  dapat  melihat perbaikan esok hari.

Kita telah memulai dengan baik melalui Konvensi Arah Baru ini. Kita bekerja dengan beneficiaries   untuk   mendukung   keluarga   dan   anak-­?anak   mereka   dan   mengurus kebutuhan mereka yang terkait dengan kerja. Fitur khas dari pendekatan baru ini adalah tanggapan responsifnya atas kebutuhan masing-­?masing individu.

Beralih dari pendekatan residual menuju pendekatan developmental adalah sebuah tantangan ambisius bukan hanya bagi internal Kementerian Sosial dan Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota tetapi bagi seluruh stakeholders dan keseluruhan komunitas, termasuk sektor swasta dan sektor organisasi masyarakat sipil (CSO). Seperti semua perubahan sosial yang jauh jangkauannya, ini membutuhkan waktu.

Kementerian Sosial berkomitmen untuk bekerja dengan akademisi, praktisi dan organisasi masyarakat sipil (CSO) Indonesia untuk mengatasi ketidaksetaraan dan menyediakan sebuah fondasi keamanan di mana peluang dapat tumbuh. Ini adalah jantung dari pendekatan developmental dalam pembangunan sosial yang kita susun bersama.