Program Keluarga Harapan merupakan salah satu Program unggulan Kementerian Sosial RI. Walau masih memiliki keterbatasan, PKH dinilai menjadi program strategis dalam penanggulangan kemiskinan. Nilai strategis ini semakin terlihat ketika PKH menyelenggarakan proses transformasi bagi peserta, yakni kelompok graduasi adalah peserta PKH yang telah mampu dan/atau tidak lagi memenuhi syarat kepesertaan PKH. Kelompok ini tidak lagi menerima bantuan namun didukung lebih lanjut dengan program lain. Sedangkan kelompok transisi adalah peserta PKH yang dinilai masih miskin dan memenuhi syarat kepesertaan PKH. Kelompok ini akan menerima bantuan tunai lagi selama 3 tahun, pengembangan kemampuan keluarga, komplementaritas berbasis ekonomi maupun program perlindungan sosial yang terintegrasi untuk membantu peningkatan kesejahteraan hingga mandiri. 

Hal tersebut berkaitan dengan Seminar Hasil Penelitian “Manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam Percepatan Penanggulangan Kemiskinan” yang diselenggarakan pada Kamis, 23 Februari 2017 di Hotel Golden Boutique, Jakarta. Dalam rekomendasi penelitian Togiaratua Nainggolan dkk menyampaikan bahwa untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan melalui PKH di Indonesia, pihak penyelenggara program direkomendasikan melakukan re-design program secara bertahap (optional) terhadap temuan yakni Intervensi belum komprehensif, tidak paralel dengan aspek yang dijadikan ukuran, ada bantuan lain tapi bukan bagian dari PKH, beda lembaga tidak semua dapat KUBE PKH, kemudian diarahkan pada target pencapaian integrasi program perlindungan sosial di Indonesia. Proses ini disertai dengan menjaga konsistensi antara ide/gagasan dasar, kebijakan, program, dan implementasi di lapangan. 

Pada kesempatan tersebut turut hadir Prof. Mas’ud selaku Staf Khusus Menteri Sosial RI Bidang Sumber Daya Manusia dan Program Kesejahteraan Sosial yang menyatakan memang sampai saat ini PKH masih menjadi Program Prioritas Kementerian Sosial, kemudian dalam penelitian tersebut perlu data yang valid dalam cara menurunkan angka kemiskinan. Selain itu hadir juga Sugiharto dari Direktorat Penanganan Fakir Miskin Pedesaan yang menyatakan bahwa bagaiman cara Pendamping PKH perlu merubah mindset peserta PKH agar lebih maju, kemudian jika bicara data perlu di verifikasi dahulu.

Paparan Penelitian PKH merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari “Seminar Hasil Penelitian 2016 Puslitbangkesos” yang berlangsung pada tanggal 22 - 24 Februari 2017 di Hotel Golden Boutique, Jakarta. Seminar  ini mengagendakan paparan 5 judul penelitian : 1). Dampak Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Dalam Penanggulangan Kemiskinan, 2). Pemetaan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial, 3). Manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, 4). Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (Rehsos Rutilahu) di Empat Provinsi, dan 5). Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT).

Dalam laporannya, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbangkesos), Drs. Mulia Jonie, M.Si menyatakan bahwa kegiatan seminar ini merupakan agenda rutin tahunan dari Puslitbangkesos sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional dalam melaksanakan penelitian yang sesuai kaidah ilmiah untuk bisa mengevaluasi, menyempurnakan dan mengembangkan kebijakan dalam bidang Kesejahteraan Sosial.