Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebagai salah satu program unggulan Kementerian Sosial dalam menanggulangi kemiskinan perlu diperkuat secara substansial maupun prosedural. Dimulai dari kejelasan aspek kelembagaan di pusat hingga daerah, penentuan jenis usaha kelompok, hingga penguatan fungsi dan peran pendamping program. Poin terakhir menjadi sangat penting mengingat pendamping menjadi tumpuan di lapangan ketika KUBE mengalami masalah dalam perkembangannya. Penguatan SDM pendamping menjadi salah satu kunci keberlangsungan KUBE apapun jenis usaha dan latar belakang pembentukannya.

Kesimpulan di atas muncul sebagai salah satu hasil penelitian “Dampak Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Dalam Penanggulangan Kemiskinan”. Drs. Anwar Sitepu, M.PM selaku peneliti menyajikan hasil penelitian tersebut dalam kegiatan “Seminar Hasil Penelitian 2016 Puslitbangkesos” di Hotel Golden Boutique, Jakarta, (22/2/2017). Bersama anggota tim peneliti lainnya - Dra. Harijati Roebjantho, Drs. Nurdin Widodo, M.Si, dan Ayu Dyah Amalia, S.Sos, M.Kesos - penelitian dilakukan dengan mengambil lokasi di 4 provinsi yakni : Sumatera Utara, Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara. Penelitian ini mengambil sampel 331 KUBE kohort 2013.

Berbagai permasalahan ditemukan menjadi hambatan keberlangsungan KUBE, dimana salah satu yang paling menentukan adalah kurangnya pendampingan. Untuk itu penelitian ini merekomendasikan perlunya pemilihan pendamping yang berkualitas, memiliki semangat tinggi, pengetahuan memadai tentang pengembangan usaha dan mampu membangun jaringan ke sumber - sumber daya lokal. Hal ini terkait erat pula dengan pemilihan jenis usaha dan strategi pengembangannya termasuk didalamnya kapasistas individu anggota KUBE dalam mengelola usaha.

Dalam sesi diskusi didapatkan berbagai masukan dari peserta seminar. Pembahas Utama,  Kepala Badan Pendidikan, Penelitian dan Penyuluhan Sosial, Edi Suharto, Ph.D menekankan perlunya data - data yang lebih lengkap untuk menjadi bahan tindak lanjut unit teknis pelaksana program. Muara dari penelitian ini harus bisa memberi kontribusi dalam penyempurnaan program-program Kementerian Sosial, utamanya Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin. Pada kesempatan memberikan komentar akhir, konsultan penelitian, Arif Wibowo, S.Sos, S.Hum, M.Hum menggarisbawahi faktor pendampingan sebagai salah satu temuan lapangan. Penguatan pendampingan menjadi salah satu fokus yang perlu dielaborasi lebih dalam oleh peneliti dilengkapi dengan data - data pendukung.

Paparan Penelitian KUBE ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan “Seminar Hasil Penelitian 2016 Puslitbangkesos” yang berlangsung pada 22 - 24 Februari 2017 di Hotel Golden Boutique, Jakarta. Seminar  ini mengagendakan paparan 5 judul penelitian : 1). Dampak Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Dalam Penanggulangan Kemiskinan, 2). Pemetaan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial, 3). Manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, 4). Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (Rehsos Rutilahu) di Empat Provinsi, dan 5). Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT).

Dalam laporannya, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbangkesos), Drs. Mulia Jonie, M.Si menyatakan bahwa kegiatan seminar ini merupakan agenda rutin tahunan dari Puslitbangkesos sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional dalam melaksanakan penelitian yang sesuai kaidah ilmiah untuk bisa mengevaluasi, menyempurnakan dan mengembangkan kebijakan dalam bidang Kesejahteraan Sosial. - J@ -