Fungsi perlindungan sosial Raskin masih sangat minim, sebatas mengurangi beban rumah tangga memenuhi kebutuhan pokok untuk beberapa hari dan belum cukup signifikan seperti yang direncanakan. Hal tersebut dikemukan oleh Anwar Sitepu selaku ketua tim evaluasi Raskin Puslitbangkesos pada diseminasi hasil penelitian Puslitbangkesos di Direktorat Jenderal Pemberdayaan sosial Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial RI (10/3/2015).

Ditambahkan Anwar Sitepu, kendala pelaksanaan program raskin tersebut adalah kesalahan penetapan sasaran program, tim koordinasi pelaksana belum efektif menyelesaikan persoalan dan alokasi anggaran belum mengcover seluruh rumah tangga miskin dan untuk memenuhi kebutuhan minimal.

Sekretaris Ditjen Dayasos dan Gulkin Teguh Haryono R menyampaikan hasil monev yang dilakukan sebanyak 96,1 persen informan/responden (TKSK) telah melakukan sosialisasi program Raskin di 426 desa/kelurahan. 96,1 persen informan/responden telah melakukan pemantauan penyaluran Raskin di 444 desa/kelurahan. Permasalahan di lapangan menurut informan/responden:Kualitas Raskin tidak bagus (47,95 persen), Raskin dibagi rata (46,58 persen), Raskin dijual (5,48 perseni Kegiatan desiminasi ini dibuka oleh Kapuslitbangkesos DR. Dwi Heru Sukoco, M.Si dihadiri oleh Sekretaris dayasos dan gulkin, pejabat struktural (pembuat kebijakan) di Ditjen Dayasos dan Gulkin serta peneliti dan pejabat struktural Puslitbangkesos berlangsung di KAT Center Kementerian Sosial RI