Dikemukakan oleh Hari Susanto seorang Profesor riset ekonomi regional pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bahwaIndonesia saat ini masih menjadi ‘the sleeping giant’ (raksasa yang sedang tidur), meski dari sisi produk domestik bruto (PDB) kita sudah masuk dalam 16 besar dunia. Bahkan diperkirakan pada 25 tahun mendatang, PDB Indonesia masuk sepuluh besar kekuatan ekonomi dunia. Namun, tekad tersebut akan tetap sebatas impian apabila tidak diikuti dengan peningkatan riset dan teknologi. Selama ini negara/pemerintah Indonesia tidak punya visi pembangunan berdasarkan pada riset. Di semua sektor, kita mengabaikan bidang riset.


Kemudian menurut Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN) M Zuhal, Jepang sudah mengalokasikan dana penelitian dan pengembangan sebesar 3,5 persen dari PDB, India 1,5 persen, dan Malaysia sebesar 0,5 persen. Tiongkok, anggaran riset sudah lebih dari 1 persen dan menargetkan 2 persen dari PDB di tahun-tahun mendatang. Anggaran riset Jepang jelas jauh di atas Tiongkok, dan kini menjadi nomor dua di bawah AS. Begitu pula Korea, yang mencapai 3% untuk anggaran riset ilmu pengetahuan dan teknologi dan akan meningkatkan menjadi 4% di tahun mendatang. Padahal, pada 1970-an, Korena masih sama dengan Indonesia. Brasil dan India juga sangat mendukung pertumbuhan investasi untuk riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Indonesia baru mengalokasikan anggaran penelitian sebesar 0,1 persen dari PDB atau sekitar 0,03 persen dari APBN. Dan kita semua bisa melihat hasilnya, negara-negara tersebut mengalami kemajuan jauh di atas kita. Padahal, hanya melalui penelitian dan pengembangan yang menghasilan inovasi, maka kita akan memiliki daya saing.


Postur anggaran untuk penelitian dan pengembangan secara nasional di Indonesia, akhirnya tercermin juga pada alokasi anggaran pada Puslitbang Kesos. Dimana pada lima tahun terakhir ini alokasi anggaran untuk tugas dan fungsi jauh kecil dibandingkan anggaran untuk manajemen. Situasi ini menjadi paradok, di satu sisi ada tuntutan untuk memberikan kontribusi dalam kebijakan, di sisi lain dukungan ke arah itu masih terbatas. Maka jalan yang dapat ditempuh adalah menjaring dana dari luar APBN yang menjadi tantangan bagi Puslitbang Kesos. Sebenarnya banyak NGO’s yang bergerak di bidang kesos yang memiliki dana cukup besar, misalnya Unecif, Save Children, WHO, World Rilief dan banyak lagi. Selain itu dijalin kemitraan dengan Pemda, perguruan tinggi, dan sektor swasta. Apabila Puslitbang Kesos dapat akses dengan lembaga-lembaga atau sektor-sektor tersebut, maka harapan terhadap eksistensi dan kontribusi Puslitbang Kesos dapat diwujudkan secara optimal (11/8-2012).