Tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini sudah sangat mengkhawatirkan. Tewasnya dua pelajar di Jakarta pada September 2012, menjadi bukti betapa lembaga pendidikan kita belum mampu membangun pribadi-pribadi siswanya sebagaimana diharapkan. Peristiwa tersebut menjadi pembenar pendapat berbagai pihak selama ini, bahwa lembaga pendidikan kita baru mentransfer ilmu (aspek kognitif), belum menjangkau aspek afektif para siswa.


Terjadinya tawuran pelajar yang sudah menunjukkan indikasi tindak kriminal (membawa senjata tajam, dan benda-benda lain yang mematikan), tidak sepenuhnya kesalahan pendidik. Karena itu, tidak arif dan terlalu ceroboh apabila tawuran pelajar tersebut berakhir dengan pemecatan kepala sekolah.


Diperlukan analisis yang komprehensif untuk membuat kesimpulan, siapa yang bersalah dalam tawuran pelajar. Berdasarkan perspektif pekerjaan sosial, perilaku seseorang yang cenderung agresif dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri remaja itu sendiri, yaitu adanya gangguan pada kepribadian atau mentalitas remaja. Kemudian, faktor eksternal berasal dari keluarga, lingkungan sosial dan kebijakan negara/pemerintah. Disorganisasi sosial dalam keluarga dan lemahnya kontrol sosial lingkungan, merupakan situasi sosial yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perilaku agresif remaja. Kebijakan negara/pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan remaja (terbatasnya media untuk mengaktualisasikan potensi remaja), dapat menjadi alasan terjadinya tawuran remaja.


Di dalam profesi pekerjaan sosial, ada salah cabang keahlian yang khusus memberikan pelayanan bagi para siswa di sekolah, yaitu pekerjaan sosial di lembaga pendidikan (School of Social Work). Di negara maju, profesi ini sudah menjadi salah satu unsur dalam sistem pendidikan. Tugasnya memberikan pelayanan konseling kepada para siswa yang mengalami problema, baik di sekolah maupun di rumah. Sebaliknya, di Indonesia belum banyak yang mengenalnya.


Karena itu menjadi tugas Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPPSI), Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI), perguruan tinggi dan organisasi profesi pekerjaan sosial lainnnya, untuk mempromosikan kepada publik mengenai eksistensi Pekerjaan Sosial di Lembaga Pendidikan. Pihak-pihak tersebut jangan bersembunyi, dan semestinya tampil di depan publik untuk “menjual” profesi ini * (1/10-2012).