Kebutuhan sosial pada manusia yang memerlukan pemenuhan, yakni rekognisi (sosial). Setiap manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan pengakuan, pengenalan dan penghargaan dari orang lain.  Apabila rekognisi ini tidak dapat terpenuhi, maka seseorang akan merasakan ada makna yang hilang dalam dirinya.

Secara sosiologis, kota dicirikan dengan cara hidup penduduknya yang indivualisme dan materialisme. Implikasinya, bahwa hubungan sosial kurang ramah, tidak menghargai hal-hal yang bersifat pribadi (privasi), kurang  memberikan pengakuan dan penghargaan atas hasil kerja orang lain,  cenderung menyalahkan orang lain, cenderung tidak mematuhi aturan/hukum atau tidak tertib, sulit diajak kompromi untuk mencari solusi, dan aktivitas-aktivitas diperhitungkan secara ekonomi. Gambaran kehidupan sosial di kota yang mencerminkan ciri-ciri tersebut dapat ditemukan di jalan-jalan raya, di kawasan slum dan transportasi umum.

Bagi kaum migran yang sudah berniat mengadu nasib dan melakukan perubahan dalam penghidupannya, kondisi kota yang demikian itu berusaha untuk ditaklukkan. Mereka berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan kota agar bisa bertahan hidup, dan mewujudkan impiannya sewaktu di kampung halaman. Pagi-pagi buta mereka meninggalkan anak isteri di rumah untuk melakukan aktivitas ekonomi, dan kembali ke rumah malam hari. Begitulah hari-hari yang dilewati kaum migran di kota yang penuh dengan risiko, baik secaa fisik, mental dan sosial. Hanya satu bisikan di dalam benaknya, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kaluarga, dan membantu orang tua di kampung halaman.

Ketika bulan ramadhan tiba, kaum migran diingatkan, bahwa sudah waktunya mereka mengingat kembali peristiwa, dan jasa orang-orang yang menjadi pendorong mereka pergi ke kota. Ibu, bapak, famili, sahabat karib dan orang yang dekat lainnya, satu demi satu dibuka dari album kenangannya ketika ramadhan tiba. Orang-orang itu yang selama  di kampung memberikan pengakuan, penghargaan, sapaan yang hangat dan tegur sapa yang ramah, bergagi pengetahuan dan pengalaman dan menghidupkan kepercayaan. Orang-orang tersebut akan  bertemu di hari lebaran  di kampung halaman nun jauh di sana dengan berbagai cerita yang mengesankan.

Suasana kebatinan itu yang menyebabkan kaum migran (meskipun sudah menjadi penduduk tetap di kota), berkeinginan mudik lebaran. Jangan dihitung dengan matematika, tidak akan ketemu hitungannya. Pemudik lebaran tidak menggunakan hitungan ekonomi (tidak rasional), tetapi lebih pada hitungan emosional (suasana kebatinan). Mereka ingin memperoleh rekognisi sosial yang hanya ditemukan di kampung halaman. Kaum migran dari daerah tertentu, sudah membentuk komunitas dan melalui keomunitasnya itu mendistribusikan sumber  ke daerah asalanya. Ada yang membangun sarana pendidikan, simpan pinjam, rumah ibadah, modal usaha bagi keluarga miskin dan sebagainya.

Berkenaan dengan itu, pemerintah perlu melanjutkan dan memantapkan bijakan terkait mudik lebaran ini. Kebijakan dimaksud terutama berkaitan dengan moda transportasi dan infrastruktur untuk memastikan pemudik sampai ke tujuan dengan aman dan nyaman (24 Juli 2015).

Penulis: Suradi,  Peneliti Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia